lagu jawa | Download MP3 & Jadwal Majelis
Showing posts with label lagu jawa. Show all posts
Showing posts with label lagu jawa. Show all posts

Friday, May 10, 2019

Makna Mendalam di Lagu Gundul Gundul Pacul

Nenek moyang kita banyak mengajarkan tentang arti kehidupan. Caranya beragam: lewat tingkah laku, nasihat, ataupun tulisan. Namun, tak sedikit juga melalui musik.
Dipilihnya musik mungkin sebagai media paling efisien. Karena musik lebih mudah diterima. Namun para nenek moyang atau pendahulu kita tak sembarangan dalam menghasilkan lagu. Mereka sangat memperhitungkan maksud dan tujuan dari lagu yang dihasilkan sehingga memunculkan syarat makan mendalam di baliknya.
Gundul-gundul Pacul, misalnya. Lagu daerah asal Jawa yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga ini lebih dikenal sebagai lagu anak-anak dan memiliki lirik sederhana dan sedikit lucu. Nadanya pun pas untuk dinyanyikan anak-anak.
Konon, lagu ini memang sengaja dikemas secara anak-anak. Sebab, melalui anak-anak, lagu ini akan terus diingat.
Gundul gundul pacul, cul, gembelengan
Nyunggi nyunggi wakul, kul, gembelengan
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar
Namun tak dinyana, Gundul-gundul Pacul punya makna mendalam di baliknya.
Kata pertama yang disebut dalam lagu ini, yakni “gundul”, atau kepala yang tak memiliki rambut.
Kita tahu bahwa kepala adalah lambang kemuliaan atau kehormatan seseorang. Sedangkan rambut adalah lambang mahkota. Artinya, seseorang yang menjadi pemimpin secara otomatis memiliki kehormatan yang melekat.
Akan tetapi, kehormatan juga mesti dibarengi dengan mahkota. Mahkota yang dimaksud adalah kejujuran, keadilan, dan terpenting adalah sadar akan posisinya sebagai pelayan rakyat. Tanpa mahkota, seorang pemimpin sulit dikatakan sebagai mana sebenarnya pemimpin. Dan itu banyak kita temui saat ini.
Kemudian pacul, atau cangkul, sebuah lambang kerakyatan. Dimaknai dari empat sisi yang terdapat pada lempengan besi pacul tersebut.
Empat sisi ini sama dengan pancaindera manusia, yakni mata (digunakan untuk melihat rakyat), telinga digunakan untuk mendengar rakyat), hidung (digunakan untuk mengendus keinginan atau kesulitan rakyat), dan mulut (digunakan untuk berkata-kata yang adil).
Lalu ada kata “gembelengan“, yang memiliki arti sembarangan, sembrono, sombong, atau, barangkali yang lebih tepat untuk menggambarkannya adalah menyalahgunakan kehormatannya.
Dalam diri pemimpin yang mesti disadari adalah: amanat rakyat akan selalu dibawanya ke manapun dan di manapun ia melangkah. Maka, disebutlah nyunggi nyunggi wakul, atau membawa bakul di atas kepala.
Bakul yang dibawa dengan kepala tersebut berisikan sebuah amanat rakyat yang besar. Namun, setelah kalimat itu, kembali muncul gembelengan, yang artinya banyak pemimpin ingkar terhadap amanatnya.
Karena banyak yang gembelengan, terjadilah wakul ngglimpang segane dadi sak latar. Kalimat ini berarti bakul yang dibawa tumpah berantakan sehalaman dan mubazir. Maksudnya, banyak pemimpin yang membawa amanat rakyat dengan kesombongannya sehingga amanat di dalam bakul itu “tumpah” sia-sia dan tak bermanfaat.
Jadi, secara keseluruhan lagu ini merupakan komitmen seseorang terhadap tanggung jawab dan amanah yang diberikan orang lain.
Nasihat kepemimpinan ini tidak hanya berlaku di pemerintahan, tetapi juga di dalam kelompok masyarakat terkecil atau keluarga.
Namun pertanyaannya, sudahkah pemimpin kita memahami lagu sederhana ini?

Makna Lagu Cublak Cublak Suweng


Cublak-cublak suweng, suwenge teng gelenter,
mambu ketundhung gudel, pak empo lera-lere,
sopo ngguyu ndhelikake, Sir-sir pong dele kopong,

Sir-sir pong dele kopong, sir-sir pong dele kopong.
Lagu dolanan anak-anak di Jawa, karya Sunan Giri (1442M) ini berisi syair ‘sanepo’ (simbol) yg sarat makna, tentang nilai-nilai keutamaan hidup manusia.

Cublak-cublak suweng,
Cublak
 Suweng artinya tempat Suweng. Suweng adalah anting perhiasan wanita Jawa. Cublak-cublak suweng, artinya ada tempat harta berharga, yaitu Suweng (Suwung, Sepi, Sejati) atau Harta Sejati.
Suwenge teng gelenter,
Suwenge
 Teng Gelenter, artinya suweng berserakan. Harta Sejati itu berupa kebahagiaan sejati sebenarnya sudah ada berserakan di sekitar manusia.
Mambu ketundhung gudel,
Mambu
 (baunya) Ketundhung (dituju) Gudel (anak Kerbau). Maknanya, banyak orang berusaha mencari harta sejati itu. Bahkan orang-orang bodoh (diibaratkan Gudel) mencari harta itu dengan penuh nafsu ego, korupsi dan keserakahan, tujuannya untuk menemukan kebahagiaan sejati. 
Pak empo lera-lere,
Pak empo
 (bapak ompong) Lera-lere (menengok kanan kiri). Orang-orang bodoh itu mirip orang tua ompong yang kebingungan. Meskipun hartanya melimpah, ternyata itu harta palsu, bukan Harta Sejati atau kebahagiaan sejati. Mereka kebingungan karena dikuasai oleh hawa nafsu keserakahannya sendiri.
Sopo ngguyu ndhelikake,
Sopo ngguyu (siapa tertawa)
 Ndhelikake (dia yg menyembunyikan). menggambarkan bahwa barang siapa bijaksana, dialah yang menemukan Tempat Harta Sejati atau kebahagian sejati. Dia adalah orang yang tersenyum-sumeleh dalam menjalani setiap keadaan hidup, sekalipun berada di tengah-tengah kehidupan orang-orang yang serakah.
Sir-sir pong dele kopong,
Sir 
(hati nurani) pong dele kopong (kedelai kosong tanpa isi). Artinya di dalam hati nurani yang kosong. Maknanya bahwa untuk sampai kepada menemu Tempat Harta Sejati (Cublak Suweng) atau kebahagiaan sejati, orang harus melepaskan diri dari atribut kemelekatan pada harta benda duniawi, mengosongkan diri, tersenyum sumeleh,rendah hati, tidak merendahkan sesama, serta senantiasa memakai rasa dan mengasah tajam Sir-nya atau hati nuraninya. 
Pesan moral lagu dolanan "Cublak Suweng" adalah:
“Untuk mencari harta kebahagiaan sejati janganlah manusia menuruti hawa nafsunya sendiri  atau serakah, tetapi semuanya kembalilah ke dalam hati nurani, sehingga harta kebahagiaan itu bisa meluber melimpah menjadi berkah bagi siapa saja ”.

Posting Populer