July 2013 | Download MP3 & Jadwal Majelis

Wednesday, July 10, 2013

Ar Raudhah Ramadhan 1434 H


habib novel, ar raudhah
Semoga bisa update terus Kajian Ar Raudhah Ramadhan 1434 H
  1. Nikmatnya Ilmu 9 Juli 2013 (4shared )
  2. Hikmah Kisah Nabi Musa 10 Juli 2013     (4shared )
  3. Hikmah Kisah Nabi Sulaiman Bagian 1 11 Juli 201 (4shared )
  4. Hikmah Kisah Nabi Sulaiman Bagian 2 12 Juli 2013   ( 4shared )
  5. Hikmah Kisah Nabi Sulaiman Bagian 3 13 Juli 2013   ( 4shared )
  6. Hikmah Kisah Nabi Sulaiman Bagian 4 16 Juli 2013    ( 4shared
  7. Hikmah Kisah Nabi Sulaiman Bagian 5 17 Juli 2013   ( 4shared
  8. Hikmah Kisah Nabi Sulaiman Bagian 6 18 Juli 2013   ( 4shared
  9. Keberkahan dan Rahasia Ilmu 19 Juli 2013 ( 4shared )
  10. Ketika Pemimpin Sudah tidak bisa jadi tauladan ( 4shared )
  11. Hikmah Kisah Nabi Sulaiman Bagian 7 20 Juli 2013    ( 4shared
  12. Ilmu Rasa ( Dzauq ) dalam ilmu 21 Juli 2013   ( 4shared
  13. Nasehat Habib Ali Al Habsyi Bagian 1 22 Juli 2013       ( 4shared
  14. Nasehat Habib Ali Al Habsyi Bagian 2 23 Juli 2013       ( 4shared )
  15. Fenomena Menjelang Akhir Ramadhan
  16. Tabligh Akbar Nuzulul Quran dan Khotmil Quran 25 Juli 2013  ( 4shared
  17. Adab Sulukil Murid 29 Juli 2013   4shared )
  18. Cuplikan Secangkir Kopi Hikmah 30 Juli 2013 ( 4shared )
Silahkan download tergantung pilih yang mana via 4shared atau archive ada 2 link berbeda di setiap kajian , untuk file aslinya bisa langsung ke Ar Raudhah  untuk video bisa di lihat di Youtube Ar Raudhah

    Tuesday, July 9, 2013

    Bacaan Tarkhim

    Klik Gambar untuk memperbesar
    Untuk download Mp3nya bisa klik di Bacaan Tarkhim

    Monday, July 8, 2013

    Fenomena Ru'yah dan Hilal


    Fenomena Ru'yah dan Hilal

    Yuk kita belajar tentang ru’yah dan hisab jadi nanti kita tidak bingung apabila menyaksikan sidang itsbat.Sebelum menginjak pada permasalahan ru`yah dan hisab, ada baiknya kita memahami hukum penentuan awal bulan secara umum.
    Para Ulama merumuskan ada 2 macam cara untuk menentukan awal bulan Ramadhan. Ada yang secara umum (meliputi seluruh penduduk daerah) dan ada yang secara khusus.
    Yang pertama yaitu secara umum adalah dengan cara menyempurnakan sya’ban 30 hari, yang kedua dengan mendengar kesaksian hilal dari orang yang terpercaya. Dengan kedua metode diatas maka seluruh penduduk daerah tersebut wajib berpuasa.
    Yang kedua adalah cara khusus yaitu apabila ada seseorang yang tidak diterima kesaksiannya melihat hilal maka dirinya wajib puasa. Kemudian metode yang berikutnya adalah dengan berita terlihatnya hilal, apabila yang mengabarkan orang yang terpercaya maka wajib puasa semua warga baik dia mempercayai atau tidak. Apabila yang mengabarkan tidak terpercaya maka tidak wajib puasa kecuali apabila kita mempercayainya.
    METODE RU’YAH
    Metode yang digunakan pemerintah dalam menentukan awal bulan adalah ru’yatul hilal (pengamatan hilal dengan kasat mata), yakni terlihat bulan diatas ufuk setelah ijtima’/konjungsi. Metode ini mempunyai pengaruh yang lebih kuat dibanding metode hisab. Para ulama bahkan bersepakat bahwa penentuan awal bulan yang didapat melalui ru’yatul hilal dapat diamalkan untuk memulai puasa ramadlan serta mengakhirinya. Dan untuk menetapkan hari raya, pemerintah memakai patokan imkanur rukyah, Secara bahasa, Imkanur Rukyat adalah mempertimbangkan kemungkinan terlihatnya hilal. Secara praktis, Imkanur Rukyat dimaksudkan untuk menjembatani metode rukyat dan metode hisab.Terdapat 3 kemungkinan kondisi.
    • Ketinggian hilal kurang dari 0 derajat. Dipastikan hilal tidak dapat dilihat sehingga malam itu belum masuk bulan baru. Metode rukyat dan hisab sepakat dalam kondisi ini.
    • Ketinggian hilal lebih dari 2 derajat. Kemungkinan besar hilal dapat dilihat pada ketinggian ini. Pelaksanaan rukyat kemungkinan besar akan mengkonfirmasi terlihatnya hilal. Sehingga awal bulan baru telah masuk malam itu. Metode rukyat dan hisab sepakat dalam kondisi ini.
    • Ketinggian hilal antara 0 sampai 2 derajat. Kemungkinan besar hilal tidak dapat dilihat secara rukyat. Tetapi secara metode hisab hilal sudah di atas cakrawala. Jika ternyata hilal berhasil dilihat ketika rukyat maka awal bulan telah masuk malam itu. Metode rukyat dan hisab sepakat dalam kondisi ini. Tetapi jika rukyat tidak berhasil melihat hilal maka metode rukyat menggenapkan bulan menjadi 30 hari sehingga malam itu belum masuk awal bulan baru. Dalam kondisi ini rukyat dan hisab mengambil kesimpulan yang berbeda
    Perhitungan teoritis ini penting karena patokan pemerintah sebenarnya adalah rukyah (pengamatan mata), sedangkan hisab hanya membantu saja. Kalau ada yang melihat hilal berarti besoknya hari raya kalau tidak ada ya besoknya belum hari raya. Dan apabila hasil hisab bertentangan dengan hasil ru’yatul hilal, maka yang lebih didahulukan adalah hasil ru’yatul hilal. Kecuali jika sekurang-kurangnya lima hasil perhitungan hisab dari kitab yang berbeda, menyimpulkan hilal tidak akan terlihat, maka laporan seseorang kepada hakim setempat perihal terlihatnya bulan harus di tolak karena berlawanan dengan yang didapat melalui metode hisab. Demikian menurut pendapat Imam As-Subki.
    METODE HISAB
    Adapun metode hisab adalah dengan memakai patokan wujudul hilal atau adanya hilal di atas ufuk. Patokan ini berarti berapa pun ketinggian hilalnya, meskipun nol koma sekian derajat, asal sudah di atas ufuk/horizon (gampangnya: hilalnya tenggelam belakangan dari matahari setelah waktu konjungsi) berarti malam itu sudah bulan baru atau sudah 1 Syawal sehingga besoknya hari raya bisa dilakukan. Dengan kata lain, patokan yang dipakai metode ini adalah hisab yang secara murni sedangkan rukyah hanyalah pendukung saja yang tidak harus diperlukan. Yang penting adalah hakikat posisi hilal/bulan baru secara astronomis, tanpa mempedulikan hilal tersebut bisa teramati mata atau tidak. Dasar dari pada metode ini adalah pendapat Imam Muthorrif bin ‘Abdullah, Abu al-‘Abbas bin Surayj dalam mengartikan hadits Rasulullah SAW:
    إذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ
    “Jika kalian melihat hilal - Ramadan - maka berpuasalah, dan jika melihat hilal - Syawal - maka berbukalah, dan jika terlihat mendung diatas kalian, maka kira-kirakanlah.” HR.Bukhori dan Muslim.
    Beliau berkata: “Makna kalimat فَاقْدُرُوا لَهُ yang dimaksud adalah mengira-ngirakan keberadaan hilal dengan metode hisab”.
    Ulama lain berpendapat bahwa kalimat melihat dalam Hadits diatas bisa berarti wujudnya hilal di ufuk yang memungkinkan untuk terlihat, meskipun pada kenyataannya tidak terlihat karena terhalang mendung misalnya.
    Ormas Islam, perkumpulan, atau lembaga-lembaga diluar pemerintah, dalam pandangan fiqh, tidak mempunyai wewenang apapun untuk menentukan/itsbat kapan datangnya awal bulan. Ketetapan pemerintah/itsbat mempunyai kekuatan hukum yang berlaku kepada seluruh warganya. Artinya, apabila pemerintah telah menetapkan kapan jatuhnya hari raya idul fitri atau awal ramadlan, maka ketetapan tersebut berlaku secara umum.
    Bagi siapapun juga yang memulai ramadhan dan berhari raya tanpa mengikuti ketetapan pemerintah, seharusnya kegiatan yang berhubungan dengan syiar hari raya tidak di tampakkan kepada orang banyak, misalnya takbiran menggunakan pengeras suara di masjid, surau atau di jalan-jalan. Karena sangat berpotensi untuk menjadikan masyarakat semakin bingung dan terpecah belah. Mari kita jaga bersama persatuan dan kesatuan bangsa.

    Saturday, July 6, 2013

    Rutinan Majelis Ar Raudhah Juli

    Rutinan Ar Raudhah 5 Juli 2013

    Tuesday, July 2, 2013

    Haul Al Habib Abdulqadir bin Abdurrahman Assegaf




    Masjid Assegaf


    Di Suatu Jumat, Al Habib Abdulqadir bin Abdurrahman as-Saqqaf mengisyaratkan kepada habib Najib bin Taha as-Saqqaf agar maju ke shaf pertama dibelakang beliau. Melihat shaf pertama yang telah penuh berdesak-desakkan Itu habib Najib bin Taha berkata, "Shaf pertama telah penuh, wahai habib." Mendengar jawaban itu habib Abdulqadir Assegaf menjawab dengan penuh kewibawaan, "Wahai anakku, majulah, kau tak mengetahui maksudku!" Jawaban itu menjadikan habib Najib bin Taha spontan maju ke shaf pertama, walaupun harus memaksakan diri mendesak shaf yang telah penuh itu. 


    "Allaahu akbar". Shalat jumat mulai didirikan. Habib Abdulqadir membaca surat al-Fatihah, lalu membaca surat setelahnya dalam keadaan menangis. Di rakaat kedua pada sujud terakhir, beliau tak kunjung bangkit dari sujudnya. Suara nafasnya terdengar dari speaker masjid. 


    Karena sujud itu sudah sangat lama, maka habib Najib bin Taha memberanikan diri untuk menggantikan beliau. "Allaahu akbar", Ucapan salam untuk mengakhiri shalat diucapkan. Para jamaah berhamburan lari ke depan ingin mengetahui apa yang terjadi pada habib Abdulqadir.


    Saat itu mereka mendapati habib Abdulqadir tetap dalam keadaan sujud tak bergerak. Lalu tubuh yang bersujud itu dibalik oleh para jamaah, dan terlihatlah wajah habib Abdulqadir. Maasya- allaah, setiap orang yang melihat wajah beliau, menitikkan air mata. Bagaimana tidak menitikkan air mata? Mereka melihat wajah habib Abdulqadir tersenyum dengan jelas sekali. Tersenyum bahagia. 


    Habib Abdulqadir wafat dalam keadaan menikmati amal yang terindah. Di saat melakukan ibadah yang teragung yaitu shalat. Mendirikan shalat itu dalam kondisi yang terutama, yaitu shalat berjamaah. Melakukan shalat yang bermuatan besar, yaitu shalat jumat. Pada saat melaksanakan rukun shalat yang terutama, yaitu sujud. Dalam posisi yang terpenting, yaitu sebagai imam shalat jumat. Di tempat yang paling utama, yaitu masjid. Di hari yang paling utama, yaitu hari jumat.


    Semoga kita mendapat barokah ilmu dan madad dari beliau, aamiin.
    dikutip dari :sharmine


     Rekamannya bisa di download di Haul 30 Juni 2013 di Masjid Assegaf

    Monday, July 1, 2013

    Solo Kota Sholawat


    mahalul qiyam

    Sebanyak 50 ribu jemaah menyesaki kawasan Koridor Sudirman mulai dari Tugu Pamandengan di depan Balaikota hingga Bunderan Gladag, mengikuti sholawat akbar yang dipimpin Habib Syeh Assegaf. Hadir pada acara dalam rangkaian Hari Jadi ke-67 Pemerintah Kota (Pemkot) Solo, Walikota FX Hadi Rudyatmo, Wakil Walikota Achmad Purnomo, Ketua DPRD YF Sukasno, serta para pejabat pemerintah setempat.

    Dipandu Habib Syeh Assegaf, mereka serempak melantunkan sholawat hingga melahirkan suara menggema penuh khitmad. Sesekali pula, ribuan jemaah serempak melambaikan tangan berirama ke kanan dan kiri, ada pula yang mengibaskan bendera kecil, hingga terpampang sebuah paduan gerak yang indah bernuansa warna putih. Sungguh, kawasan Koridor yang biasanya lekat dengan hiruk pikuk kepadatan lalu lintas, malam itu berubah total menjadi ruang spiritual yang menyejukkan.

    "Ini merupakan langkah awal dari gagasan besar untuk mewujudkan Solo sebagai Kota Sholawat," ungkap Walikota FX Hadi Rudyatmo, saat membuka acara tersebut Sabtu (22/06/2013) malam. Sebab ke depan secara bertahap, ritual serupa juga dilangsungkan di kecamatan-kecamatan serta kelurahan.

    Gagasan membangun Kota Sholawat, menurutnya, bukanlah hal yang mustahil, menyusul Kota Solo memiliki jejak sejarah tersendiri dalam penyebaran agama Islam, yang diantaranya masih dapat ditelusuri lewat tradisi Sekatenan.

    "Alangkah indahnya jika suatu saat nanti setiap satu bulan sekali terselenggara sholawat. Dengan begitu tak ada lagi masyarakat Solo terkena stres, dan hidup saling berdampingan dala suasana damai. Karenanya, dia mengapresiasi upaya Pemkot Solo membangun suasana batin lewat sholawat, sekaligus mendukung sepenuhnya untuk mewujudkan Kota Sholawat," tambah Habib Syeh Assegaf. (Hut). Kedaulatan Rakyat.
    (KRjogja.com)-


    untuk melihat videonya bisa ke Youtube Ahbaabul Musthofa

    Posting Populer