artikel | Download MP3 & Jadwal Majelis
Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

Friday, July 14, 2017

Kitab Fiqih Muhammadiyah Karya KH Ahmad Dahlan


GURU DAN AMALIAH KH. AHMAD DAHLAN (MUHAMMADIYYAH) DAN KH. HASYIM AS’ARI (NU) ADALAH SAMA TIADA PERBEDAAN

Kitab Fiqih Muhammadiyah Karya KH Ahmad Dahlan
Tulisan kali ini hendak mempertegas tulisan kami yang telah lalu berjudul “Sejarah Awal Muhammadiyah yang Terlupakan”, dimana banyak dari kita belum tahu atau sengaja melupakan sejarah awal Muhammadiyyah.

Secara ringkas kami katakan bahwa, KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyyah pada 18 November 1912/8 Dzull Hijjah 1330) dengan KH. Hasyim Asy’ari (pendiri NU pada 31 Januari 1926/16 Rajab 1344) adalah satu sumber guru dengan amaliah ubudiyah yang sama. Bahkan keduanya pun sama-sama satu nasab dari Maulana ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri).


Berikut kami kutip kembali ringkasan “Kitab Fiqih Muhammadiyyah”, penerbit Muhammadiyyah Bagian Taman Poestaka Jogjakarta, jilid III, diterbitkan tahun 1343 H/1925 M, dimana hal ini membuktikan bahwa amaliah kedua ulama besar di atas tidak berbeda:

1. Niat shalat memakai bacaan lafadz: “Ushalli Fardha...” (halaman 25).
2. Setelah takbir membaca: “Allahu Akbar Kabiran Walhamdulillahi Katsira...” (halaman 25).
3. Membaca surat al-Fatihah memakai bacaan: “Bismillahirrahmanirrahim” (halaman 26).
4. Setiap shalat Shubuh membaca doa Qunut (halaman 27).
5. Membaca shalawat dengan memakai kata: “Sayyidina”, baik di luar maupun dalam shalat (halaman 29).
6. Setelah shalat disunnahkan membaca wiridan: “Istighfar, Allahumma Antassalam, Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, Allahu Akbar 33x” (halaman 40-42).
7. Shalat Tarawih 20 rakaat, tiap 2 rakaat 1 salam (halaman 49-50).
8. Tentang shalat & khutbah Jum’at juga sama dengan amaliah NU (halaman 57-60).

KH. Ahmad Dahlan sebelum menunaikan ibadah haji ke tanah suci bernama Muhammad Darwis. Seusai menunaikan ibadah haji, nama beliau diganti dengan Ahmad Dahlan oleh salah satu gurunya, as-Sayyid Abubakar Syatha ad-Dimyathi, ulama besar yang bermadzhab Syafi’i.

Jauh sebelum menunaikan ibadah haji, dan belajar mendalami ilmu agama, KH. Ahmad Dahlan telah belajar agama kepada asy-Syaikh KH. Shaleh Darat Semarang. KH. Shaleh Darat adalah ulama besar yang telah bertahun-tahun belajar dan mengajar di Masjidil Haram Makkah.


Di pesantren milik KH. Murtadha (sang mertua), KH. Shaleh Darat mengajar santri-santrinya ilmu agama, seperti kitab al-Hikam, al-Munjiyyat karya beliau sendiri, Lathaif ath-Thaharah, serta beragam ilmu agama lainnya. Di pesantren ini, Mohammad Darwis ditemukan dengan Hasyim Asy’ari. Keduanya sama-sama mendalami ilmu agama dari ulama besar Syaikh Shaleh Darat.

Waktu itu, Muhammad Darwis berusia 16 tahun, sementara Hasyim Asy’ari berusia 14 tahun. Keduanya tinggal satu kamar di pesantren yang dipimpin oleh Syaikh Shaleh Darat Semarang tersebut. Sekitar 2 tahunan kedua santri tersebut hidup bersama di kamar yang sama, pesantren yang sama dan guru yang sama.


Dalam keseharian, Muhammad Darwis memanggil Hasyim Asy’ari dengan panggilan “Adik Hasyim”. Sementara Hasyim Asy’ari memanggil Muhammad Darwis dengan panggilan “Mas atau Kang Darwis”.

Selepas nyantri di pesantren Syaikh Shaleh Darat, keduanya mendalami ilmu agama di Makkah, dimana sang guru pernah menimba ilmu bertahun-tahun lamanya di Tanah Suci itu. Tentu saja, sang guru sudah membekali akidah dan ilmu fikih yang cukup. Sekaligus telah memberikan referensi ulama-ulama mana yang harus didatangi dan diserap ilmunya selama di Makkah.

Puluhan ulama-ulama Makkah waktu itu berdarah Nusantara. Praktek ibadah waktu itu seperti wiridan, tahlilan, manaqiban, maulidan dan lainnya sudah menjadi bagian dari kehidupan ulama-ulama Nusantara. Hampir semua karya-karya Syaikh Muhammad Yasin al-Faddani, Syaikh Muhammad Mahfudz at-Turmusi dan Syaikh Khaathib as-Sambasi menuliskan tentang madzhab Syafi’i dan Asy’ariyyah sebagai akidahnya. Tentu saja, itu pula yang diajarkan kepada murid-muridnya, seperti KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, Syaikh Abdul Qadir Mandailing dan selainnya.


Seusai pulang dari Makkah, masing-masing mengamalkan ilmu yang telah diperoleh dari guru-gurunya di Makkah. Muhammad Darwis yang telah diubah namanya menjadi Ahmad Dahlan mendirikan persarikatan Muhammadiyyah. Sedangkan Hasyim Asy’ari mendirikan NU (Nahdlatul Ulama). Begitulah persaudaraan sejati yang dibangun sejak menjadi santri Syaikh Shaleh Darat hingga menjadi santri di Tanah Suci Makkah. Keduanya juga membuktikan, kalau dirinya tidak ada perbedaan di dalam urusan akidah dan madzhabnya.


Saat itu di Makkah memang mayoritas bermadzhab Syafi’i dan berakidahkan Asy’ari. Wajar, jika praktek ibadah sehari-hari KH. Ahmad Dahlan persis dengan guru-gurunya di Tanah Suci. Seperti yang sudah dikutipkan di awal tulisan, semisal shalat Shubuh KH. Ahmad Dahan tetap menggunakan Qunut, dan tidak pernah berpendapat bahwa Qunut sholat subuh Nabi Muhammad Saw adalah Qunut Nazilah. Karena beliau sangat memahami ilmu hadits dan juga memahami ilmu fikih.

Begitupula Tarawihnya, KH. Ahmad Dahlan praktek shalat Tarawihnya 20 rakaat. Penduduk Makkah sejak berabad-abad lamanya, sejak masa Khalifah Umar bin Khattab Ra., telah menjalankan Tarawih 20 rakaat dengan 3 witir, sehingga sekarang. Jumlah ini telah disepakati oleh sahabat-sahabat Nabi Saw. Bagi penduduk Makkah, Tarawih 20 rakaat merupakan ijma’ (konsensus kesepakatan) para sahabat Nabi Saw.


Sedangkan penduduk Madinah melaksanakan Tarawih dengan 36 rakaat. Penduduk Makkah setiap pelaksanaan Tarawih 2 kali salaman, semua beristirahat. Pada waktu istirahat, mereka mengisi dengan thawaf sunnah. Nyaris pelaksanaan shalat Tarawih hingga malam, bahkan menjelang Shubuh. Di sela-sela Tarawih itulah keuntungan penduduk Makkah, karena bisa menambah pahala ibadah dengan thawaf. Maka bagi penduduk Madinah untuk mengimbangi pahala dengan yang di Makkah, mereka melaksanakan Tarawih dengan jumlah lebih banyak.


Jadi, baik KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari tidak pernah ada perbedaan di dalam pelaksanaan ubudiyah. Ketua PP. Muhammdiyah, Yunahar Ilyas pernah menuturkan: “KH. Ahmad Dahlan pada masa hidupnya banyak menganut fiqh madzhab Syafi’i, termasuk mengamalkan Qunut dalam shalat Shubuh dan shalat Tarawih 23 rakaat. Namun, setelah berdirinya Majelis Tarjih pada masa kepemimpinan KH. Mas Manshur, terjadilah revisi-revisi, termasuk keluarnya Putusan Tarjih yang menuntunkan tidak dipraktekkannya doa Qunut di dalam shalat Shubuh dan jumlah rakaat shalat Tarawih yang sebelas rakaat.”


Sedangkan jawaban enteng yang dikemukan oleh dewan tarjih saat ditanyakan: “Kenapa ubudiyyah (praktek ibadah) Muhammadiyyah yang dulu dengan sekarang berbeda?” Alasan mereka adalah karena “Muhammadiyyah bukan Dahlaniyyah”.

Masihkah diantara kita yang gemar mencela dan mengata-ngatai amaliah-amaliah Ahlussunnah wal Jama’ah Nahdlatul Ulama sebagai amalan bid’ah, musyrik dan sesat?


Tuesday, September 20, 2016

Donasi Aswaja IT Developer


Donasi Aswaja IT Developer
Bagi siapapun yang ingin berkontribusi atau memberikan bantuan/ donasi untuk Aswaja IT Developer, silahkan bergabung bersama Grup Donasi Aswaja. Caranya dengan mengirim SMS/ WhatsApp dengan format:
NAMA <spasi> ASAL KOTA, kirim ke 081350937414.
Nanti Anda akan dimasukan ke dalam grup bersama teman-teman yang lainnya dan akan diingatkan setiap bulannya.
Atau Anda dapat langsung melakukan transfer tanpa perlu bergabung ke dalam grup, kirimkan melalui akun Bank berikut ini:
  • Bank BCA, Nomor Rekening: 5055001470, an. Seto Setiawan Wisnu Utomo atau
  • Bank Mandiri, Nomor Rekening: 1240005329470, an. Seto Setiawan Wisnu Utomo.
Harap konfirmasi via SMS/ WhatsApp ke nomor di atas (081350937414setelah transfer.
Donasi yang terkumpul insya Allah akan digunakan dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan pembiayaan kegiatan Aswaja IT Developer seperti pembayaran bulanan/ tahunan server Aswaja Center (hosting dan radio streaming), pembukaan akun Google Playstore, dan lain-lain. Untuk informasi dan laporan donasi selengkapnya dapat dilihat di http://donasi.aswajacenter.com/.
Sekilas Tentang Aswaja IT Developer
Aswaja IT Developer atau Ahlussunnah wal Jama’ah IT Developer adalah kumpulan komunitas anak-anak muda yang menguasai teknologi informasi yang mempunyai satu semangat yang sama, yakni memberikan sumbangsing dakwah melalui kompetensi IT masing-masing (IT Support Dakwah) yang berasal dari berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Jogjakarta, Solo, Malang, Cirebon, Bogor, Balikpapan, Makasar dan sebagainya.
Aswaja IT Developer dibentuk pada 14 April 2013 oleh Sayyidil Habib Novel bin Muhammad Alaydrus di Markas Besar Majelis Ar-Raudhah Surakarta bersamaan dengan acara Tabligh Akbar “Mantapkan Akidahmu” yang diselenggarakan Masjid Agung Surakarta yang dihadiri lebih dari 20.000 umat Islam se-Solo Raya.
Bertujuan untuk membantu dan memfasilitasi para pegiat dakwah Islam Ahlusunnah Wal Jama’ah seperti majelis taklim maupun pondok pesantren agar dakwah yang disampaikan bisa disebarkan secara lebih luas kepada masyarakat, melalui program kegiatan IT Support Dakwah seperti layanan website, server hosting dan radio streaming online, serta aplikasi mobile device Android. Layanan ini bersifat non-komersial alias gratis atau cuma-cuma selama bertujuan untuk kepentingan dakwah Islam Aswaja.
Saat ini Aswaja IT Developer sudah melayani beberapa website Islam dan radio streaming Islam serta menghasilkan beberapa produk aplikasi Android Islam. Website Ngaji Yuk! yang beralamat di http://www.elhooda.net/ adalah salah satu contohnya. Selanjutnya dapat dilihat di bawah ini:
Daftar Website Aswaja IT Developer
Website selengkapnya dapat lihat di situs resmi Aswaja Center.
Daftar Aplikasi Android Aswaja IT Developer
Untuk daftar radio streaming Aswaja dapat dicek langsung di situs Aswaja Center.
BERSAMA KITA BISA DUKUNG PROGRAM IT SUPPORT DAKWAH MELALUI ASWAJA IT DEVELOPER UNTUK ISLAM YANG RAHMATAN LIL ‘ALAMIN
Sumber:elhooda.net

Monday, September 19, 2016

Kisah indah pertemuan Habib Abubakar Gresik dengan Habib Alwi Solo

Kami kemudian masuk ke dalam rumah Habîb Abû Bakar yang penuh berkah. Tatkala menatap wajah beliau yang tampan dan bercahaya seperti bulan purnama, air mata kami jatuh berderai.
Kebahagiaan menyelimutiku, begitu hebat hingga aku tak kuasa menahan tangisku

Sayyidî ‘Alwî menghampiri Habîb Abû Bakar, mencium tangan beliau. Keduanya lalu saling berpelukan, menangis dan bersyukur kepada Allâh Ta’âlâ atas pertemuan ini. Sepuluh tahun lamanya mereka tidak berjumpa. Kekhusyukan dan haibah pertemuan ini dirasakan oleh semua yang hadir. Mereka seakan terpukau dan suasana sangat hening. Setiap pipi basah oleh air mata, setiap kepala tertunduk ke bawah. Mereka semua menyaksikan pertemuan agung ini setelah perpisahan begitu lama. Perpisahan yang dimaksud adalah perpisahan raga, adapun ruh mereka senantiasa hadir dan tak pernah berpisah.
Habîb Abû Bakar, semoga Allâh memanjangkan umurnya, menatap Sayyidî ‘Alwî dan berulang kali mengucapkan selamat datang dan penghormatan. Selang beberapa saat Habîb Abû Bakar memeluk beliau. Ini dilakukannya tiga kali. Tanda-tanda kebahagiaan dan suka cita tampak jelas di wajah keduanya.
Habîb Abû Bakar berkata, “Yang telah memegang takkan melepaskan.”
“Aku akan menaatimu. Aku datang kemari dengan berbagai keperluan. Dan mengharapkan pemberian untukku, anak-anakku, dan keluargaku,” kata Sayyidî ‘Alwî.
Beliau lalu membacakan salah satu ayat Quran.
“Hai pembesar, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allâh memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah.” (Yûsûf/12:88)

“Tentu…, tentu…, aku akan memberimu kabar gembira,” kata beliau, “Sejak subuh hari ini aku merasa gelisah dan tak banyak berkata-kata. Aku tidak tahu apa sebabnya. Melihat engkau datang, hilanglah kegelisahanku, hatiku terasa lapang dan aku menjadi bersemangat.”
“Habîb Husein al-Haddâd menyarankan agar kami cepat-cepat ke Gresik karena menurutnya engkau sedang mengharap-harap kedatangan kami,” kata Sayyidî ‘Alwî.
Sayyidiy ‘Alwî lalu bercerita bahwa dahulu ayah beliau (Habîb ‘Alî) bila mendapat kunjungan penduduk atau ulama Tarîm, misalnya: Habîb ‘Umar bin ‘Idrûs al-‘Aidarûs dan saudara beliau Habîb ‘Abdullâh, atau Habîb Muhammad as-Sirî, beliau tampak gembira, bersemangat, lalu memakai pakaian yang paling bagus dan berkata, “Ahlanâ ‘indanâ… Keluarga kami sekarang berada di rumah kami.”
Sayyidiy ‘Alwî melanjutkan, “Sekali waktu mereka datang di musim panas ketika kami sedang berada di Anîsah. Menjelang akhir malam, mereka telah berada di halaman. Pada malam itu kami akan mengkhatamkan Qurân. Biasanya, ayahku memulai khataman dari surat al-Burûj. Ketika beliau radhialâhu ‘anhu mulai membaca, maka yang ruku’ tetap ruku’, tidak ingin i’tidal, yang sujud tak ingin bangun dari sujudnya, yang sedang berjalan berhenti di tempatnya, yang sedang memakai pakaian tak sanggup memasukkan tangannya yang lain ke lengan bajunya, mereka semua terpaku mendengarkan seorang ârifbillâh membaca kalâmulâh di akhir malam, bermunajat kepada Allâh Azza wa Jalla.”
Sumber : Facebook Habib Muhammad bin Husein Al Habsyi

Friday, September 16, 2016

Gugurnya Sayidina Ja'far bin Abi Thalib


HABIB UMAR RHM BERCERITA
Kisah Mengharukan Tentang Gugurnya
Sayidina Ja'far bin Abi Thalib

Perhatikanlah perjuangan Sayidina Ja’far bin Abi Thalib, ketika tangan kanannya putus, ia genggam bendera perang di tangan kirinya. Ketika tangan kirinya putus, ia rangkul bendera itu dengan kedua lengannya. Ia tidak rela melihat bendera Muhammad SAW jatuh. Ia terluka dengan delapan puluh tusukan di bagian depan tubuhnya. Semua luka itu ada di bagian depan tubuhnya. Mengapa? Karena beliau maju terus pantang mundur. Semoga Allah meridhoinya.
Para sahabat memikul tubuhnya yang penuh luka itu.
“Minumlah air ini,” kata seorang sahabat.
“Aku puasa,” jawabnya lemah.
Padahal saat itu cuaca sangat panas, di medan jihad, dalam kancah peperangan.
“Berbukalah hari ini dan berpuasalah di hari lain, lukamu sangat parah,” bujuk sahabat-sahabatnya.
“Aku ingin berbuka di surga.”

Dan beliau pun akhirnya berbuka di surga.
Sayidina Muhammad SAW yang saat itu sedang duduk bersama para sahabat di Madinah tiba-tiba menengadahkan wajahnya ke langit dan menjawab salam:
وَعَلَيْكَ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Semoga keselamatan, rahmat Allah dan berkah-Nya juga menyertaimu.

Beliau kemudian terlibat dalam pembicaraan. Para sahabat yang menyaksikan peristiwa itu terdiam, menundukkan kepala. Salah seorang dari mereka kemudian bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah yang engkau ajak bicara?”
“Ja’far bin Abi Thalib datang mengunjungiku bersama jutaan malaikat. Allah mengganti kedua tangannya dengan dua buah sayap. Ia dapat terbang ke mana pun ia suka di surga,” jawab Nabi.
Perhatikanlah, Allah telah memerintahkan untuk mengawalnya ke surga, namun ia merindukan Nabinya. Ia ingin menemuinya lebih dahulu. Surga dan segala kenikmatannya tidak melalaikannya dari nabi kecintaannya.
“Aku ingin mengucapkan salam kepada kekasihku, aku ingin berada dekat dengan nabiku, aku ingin melihat rasul-Mu yang melaluinya aku memperoleh hidayah,” kata Ja’far.
Ruhnya datang ke Madinah mengunjungi nabi dan mengucapkan salam kepada beliau. Sebab, memandang wajah Nabi SAW dapat membuat hatinya menjadi tentram.
Sumber: Fanpage Habib Muhammad bin Husein Al Habsyi

Manaqib Al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf Gresik


SEBAHAGIAN DARI MANAQIB / BIOGRAFI AL-QUTHB AL-HABIB ABU BAKAR BIN MUHAMMAD ASSEGAF - GRESIK
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

TABARRUKAN ( MENGAMBIL BAROKAH DARI BELIAU ), BERTEPATAN TANGGAL 18 & 19 SEPTEMBER 2016 ADALAH HAULNYA BELIAU R.A
Beliau adalah Al-Imam al-Quthbul Fard al-Habib Abu Bakar bin Muhammad bin Umar bin Abu Bakar bin Al-Habib Umar bin Segaf as-Segaf (seorang imam di lembah Al-Ahqof).
Garis keturunan beliau yang suci ini terus bersambung kepada ulama dari sesamanya hingga bermuara kepada pemuka orang-orang terdahulu, sekarang dan yang akan datang, seorang kekasih nan mulia Nabi Muhammad S.A.W. Beliau terlahir di kampung Besuki 
(salah satu wilayah di kawasan Jawa Timur) tahun 1285 H. Ayahanda beliau ra. wafat di kota Gresik, sementara beliau masih berumur kanak-kanak.

Sungguh al-Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Segaf tumbuh besar dalam asuhan dan penjagaan yang sempurna. Cahaya kebaikan dan kewalian telah tampak dan terpancar dari kerut-kerut wajahnya, sampai-sampai beliau R.a di usianya ke-3 tahun mampu mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi pada dirinya. Semua itu tak lain karena kekuatan dan kejernihan rohani beliau, serta kesiapannya untuk menerima curahan anugerah dan Fath (pembuka tabir hati) darinya.
Pada tahun 1293 H, atas permintaan nenek beliau yang sholehah Fatimah binti Abdullah (Ibunda ayah beliau), beliau merantau ditemani oleh al-Mukaram Muhammad Bazamul ke Hadramaut meninggalkan tanah kelahirannya Jawa.
Di kala al-Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Segaf akan sampai di kota Sewun, beliau di sambut di perbatasan kota oleh paman sekaligus guru beliau al-Allamah Abdullah bin Umar berikut para kerabat. Dan yang pertama kali dilantunkan oleh sang paman bait qosidah al-Habib al-Arifbillah Syeh bin Umar bin Segaf seorang yang paling alim di kala itu dan menjadi kebanggaan pada jamannya.
Dan ketika telah sampai beliau dicium dan dipeluk oleh pamannya. Tak elak menahan kegembiraan atas kedatangan sang keponakan dan melihat raut wajahnya yang memancarkan cahaya kewalian dan kebaikan berderailah air mata kebahagiaan sang paman membasahi pipinya.
"Hati para kaum arifin memiliki ketajaman pandang.
Mampu melihat apa yang tak kuasa dilihat oleh pemandang".

Sungguh perhatian dan didikan sang paman telah membuahkan hasil yang baik pada diri sang keponakan. Beliau belajar kepada sang paman al-Habib Abdullah bin Umar ilmu fiqh dan tasawuf, sang paman pun suka membangunkannya pada akhir malam ketika beliau masih berusia kanak-kanak guna menunaikan shalat tahajjud bersama-sama.
Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf mempunyai hubungan yang sangat kuat dalam menimba ilmu dari para ulama dan pemuka kota Hadramaut. Sungguh mereka (para ulama) telah mencurahkan perhatiannya pada al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf. Maka beliau ra. Banyak menerima dan memperoleh ijazah dari mereka.
Diantara para ulama terkemuka Hadramaut yang mencurahkan perhatiannya kepada beliau, adalah al-Imam al-Arifbillah al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi - Shohibul Maulid (seorang guru yang sepenuhnya mencurahkan perhatiannya kepada al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf).
Sungguh Habib Ali telah menaruh perhatiannya kepada al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf semenjak beliau masih berdomisili di Jawa sebelum meninggalkannya menuju Hadramaut.
Al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi berkata kepada salah seorang murid seniornya :
"Perhatikanlah! Mereka bertiga adalah para wali, nama, haliyah, dan maqom (kedudukan) mereka sama. Yang pertama adalah penuntunku nanti di alam barzakh, beliau adalah Quthbul Mala al-Habib Abu Bakar bin Abdullah al-Aidrus, yang kedua, aku melihatnya ketika engkau masih kecil beliau adalah al-Habib al-Ghoust Abu Bakar bin Abdullah al-Atthos, dan yang ketiga engkau akan melihat sendiri nanti di akhir dari umurmu".
Maka tatkala memasuki tahun terakhir dari umurnya, ia bermimpi melihat Rosulullah SAW sebanyak lima kali berturut-turut selama lima malam, sementara setiap kali dalam mimpi Beliau SAW mengatakan kepadanya (orang yang bermimpi) :
"Lihatlah di sampingmu, ada cucuku yang sholeh Abu Bakar bin Muhammad Assegaf"!
Sebelumnya, orang yang bermimpi tersebut tidak mengenal al-Habib Abu Bakar Assegaf kecuali setelah dikenalkan oleh Baginda Rosul al-Musthofa SAW didalam mimpinya.
Lantas ia teringat akan ucapan al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi dimana beliau pernah berkata :
"Mereka bertiga adalah para wali, nama dan kedudukan mereka sama". Setelah itu ia (orang yang bermimpi) menceritakan mimpinya kepada al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf dan tidak lama kemudian ia pun meninggal dunia.
Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf mendapat perhatian khusus dan pengawasan yang istimewa dari gurunya al Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi sampai-sampai Habib Ali sendiri yang meminangkan beliau dan sekaligus menikahkannya.
Selanjutnya (diantara para Masyayikhnya) adalah al Allamah al Habib Abdullah bin Umar Assegaf sebagai syaikhut tarbiyah.
Al Imam al Quthb al Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi sebagai syaikhut taslik.
Juga al Mukasyif al Habib Abdul Qadir bin Ahmad bin Quthban sebagai syaikhul fath.
Guru yang terakhir ini sering memberi berita gembira kepada beliau :
"Engkau adalah pewaris haliyah kakekmu al Habib Umar bin Segaf".
Sekian banyak para ulama para wali dan para kaum sholihin Hadramaut baik itu yang berasal dari Sewun, Tarim dan lain-lain yang menjadi guru al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf, seperti :
- al Habib Muhammad bin Ali Assegaf, 
- al Habib Idrus bin Umar al-Habsyi, 
- al Habib Ahmad bin Hasan al-Atthas, 
- al Habib Abdurrahman al-Masyhur, 
- juga putera beliau al Habib Ali bin Abdurrahman al-Masyhur, 
- dan juga al Habib Syekh bin Idrus al-Idrus

dan masih banyak lagi guru beliau yang lainnya.
Pada tahun 1302 H, ditemani oleh al Habib Alwi bin Segaf Assegaf al Habib Abu Bakar Assegaf pulang ketanah kelahirannya (Jawa) tepatnya di kampung Besuki.
Selanjutnya pada tahun 1305 H, ketika itu beliau berumur 20 tahun beliau pindah ke kota Gresik sambil terus menimba ilmu dan meminta ijazah dari para ulama yang menjadi sinar penerang negeri pertiwi Indonesia, sebut saja :
- al Habib Abdullah bin Muhsin al-Atthas, 
- al Habib Abdullah bin Ali al-Haddad, 
- al Habib Ahmad bin Abdullah al-Atthas, 
- al Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya, 
- al Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi,
- al Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdlar, dan lain sebagainya.

Kemudian pada tahun 1321 H, tepatnya pada hari jum'at ketika sang khatib berdiri diatas mimbar beliau r.a mendapat ilham dari Allah SWT bergeming dalam hatinya untuk mengasingkan diri dari manusia semuanya.
Terbukalah hati beliau untuk melakukannya, seketika setelah bergeming beliau keluar dari masjid jami' menuju rumah kediamannya. Beliau al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf ber-uzlah atau khalwat (mengasingkan diri) dari manusia selama lima belas tahun bersimpuh dihadapan Ilahi Rabbi.
Dan tatkala tiba saat Allah mengizinkan beliau untuk keluar dari khalwatnya, guru beliau al Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi mendatanginya dan memberi isyarat kepada beliau untuk mengakhiri masa khalwatnya, al Habib Muhammad al-Habsyi berkata :
"selama tiga hari kami bertawajjuh dan memohon kepada Allah agar Abu Bakar bin Muhammad Assegaf keluar dari khalwatnya".
Lantas beliau menggandeng al Habib Abu Bakar Assegaf dan mengeluarkannya dari khalwatnya.
Kemudian masih ditemani al Habib Muhammad al-Habsyi beliau r.a menziarahi al Habib Alawi bin Muhammad Hasyim, sehabis itu langsung berangkat ke kota Surabaya menuju ke kediaman al Habib Abdullah bin Umar Assegaf.
Sambil menunjuk kepada al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf al Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi memproklamirkan kepada para hadirin :
"Ini al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf termasuk murtiara berharga dari simpanan keluarga Ba 'Alawi, kami membukanya agar bisa menularkan manfaat bagi seluruh manusia".
Setelah itu beliau membuka majlis ta'lim dirumahnya, beliau menjadi pengayom bagi mereka yang berziarah juga sebagai sentral (tempat rujukan) bagi semua golongan diseluruh penjuru, siapa pun yang mempunyai maksud kepada beliau dengan dasar husnudzhon (sangka baik) niscaya ia akan meraih keinginannya dalam waktu yang relatif singkat.
Di rumah beliau sendiri, al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf telah menghatamkan kitab Ihya' Ulumuddin lebih dari 40 kali. Pada setiap kali hatam beliau selalu menghidangkan jamuan yang istimewa. al Habib Abu Bakar Assegaf betul-betul memiliki ghirah (antusias/semangat) yang besar dalam menapaki aktivitas dan akhlaq para aslaf (pendahulunya), terbukti dengan dibacanya dalam majlis beliau sejarah dan kitab-kitab buah karya para aslafnya.
Adapun maqom (kedudukan) al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf, beliau telah mencapai tingkat Shiddiqiyah Kubro. Hal itu telah diakui dan mendapat legitimasi dari mereka yang hidup sezaman dengan beliau. Berikut ini beberapa komentar dari mereka :
★ al Imam al Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhor berkata :
"Demi fajar dan malam yang sepuluh dan yang genap dan yang ganjil. Sungguh al Akh Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah mutiara keluarga Segaf yang terus menggelinding (maqomnya) bahkan membumbung tinggi menyusul maqom-maqom para aslafnya".
★ Al Habib Alwi bin Muhammad al-Haddad berkata:
"Sesungguhnya al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah seorang Quthb al Ghaust juga sebagai tempat turunnya pandangan (rahmat) Allah SWT".
★ Al Arif billah al Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi pernah berkata di rumah al Habib Abu Bakar Assegaf dikala beliau membubuhkan tali ukhuwah antara beliau dengan al Habib Abu Bakar Assegaf, pertemuan yang diwarnai dengan derai air mata. Habib Ali berkata kepada para hadirin ketika itu :
"Lihatlah kepada saudaraku fillah Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf. Lihatlah ia..! Maka melihat kepadanya termasuk ibadah"
★ Al Habib Husein bin Muhammad al-Haddad berkata,
"Sesungguhnya al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah seorang khalifah. Beliau adalah penguasa saat ini, belia telah berada pada Maqom as Syuhud yang mampu menyaksikan (mengetahui) hakekat dari segala sesuatu. Beliau berhak untuk dikatakan "Dia hanyalah seorang hamba yang kami berikan kepadanya (sebagai nikmat)".
Majlis beliau senantiasa penuh dengan mudzakarah dan irsyad menuju jalan para pendahulunya. Majlis beliau tak pernah kosong dari pembacaan kitab- kitab mereka.
Inilah perhatian beliau untuk tetap menjaga thoriqah salafnya dan berusaha berjalan diatas… qadaman ala qadamin bi jiddin auza’i.
Itulah yang beliau lakukan semasa hayatnya, mengajak manusia kepada kebesaran Ilahi.
Waktu demi waktu berganti, sampai kepada suatu waktu dimana Allah memanggilnya. Disaat terakhir dari akhir hayatnya, beliau melakukan puasa selama 15 hari, dan setelah itu beliau pun menghadap ke haribaan Ilahi.
Beliau wafat pada tahun 1376 H pada usia 91 tahun. Jasad beliau disemayamkan di sebelah masjid Jami, Gresik..
ILAA HADROTI AL-HABIB ABU BAKAR BIN MUHAMMAD AS-SEGAF - GRESIK...AL-FAATI'HAH!

Sumber :Facebook Mbak isnaini.machmudah

Thursday, September 15, 2016

Jangan Mengikuti Ajakan Iblis


Barusan kita mengerjakan Ibadah sunah yaitu sholat Idul Adha dan Berkurban, karena dikerjakan bareng umat islam sedunia hasilnya luar biasa bisa berbagi daging kepada sesama.

Umpama ibadah sunah sholat dhuha, hajat, tahajud dikerjakan bersama juga akan luar biasa. Apalagi ibadah wajib tentu menghasilkan lebih luar biasa lagi.
...
Iblis mempunyai sifat Hasud dan Sombong, diperintah supaya sujud kepada manusia Masih mikir manusia diciptakan dari tanah sedangkan Iblis dari Api. Karena merasa lebih baik tidak mau sujud, padahal cuma bersujud. 
Malaikat mempunyai sifat taat terhadap perintah Allah Taa'la sehingga setiap perintah langsung dikerjakan.
Manusia disuruh berkorban padahal mampu beli sapi masih mikir kebutuhan lainnya.
Padahal Nabi Ibrahim disuruh menyembelih Ismail dia yakin itu perintah Allah langsung dilaksanakan tidak banyak mikir. Allah Taa'la langsung mengganti dengan kambing gibas besar dan Nabi Ismail selamat. 
Seharusnya kita harus jujur bila mau Berkurban.
...
Abah Lutfi Pekalongan mengatakan bahwa perintah Allah Taa'la itu balapan dengan setan, maka bila kita punya krentek shodahoh harus cepat dilaksanakan.
...
Pesan Hasan Basri mengapa permintaan/doa kita tidak di dikabulkan karena hati kita mati. Yang menyebabkan hati mati ada 6 perkara. Salah satunya kita mengakui Iblis sebagai musuh kita tapi kita masih mau mengikuti.
...
Kesimpulan jangan mengikuti Iblis karena sifat Hasud dan Sombong. Sehingga perintah Allah Taa'la tidak ditaati, kakean pikiran, alasan dan panjang angan-angan.

Romo KH Zahid
Sumber : Facebook Mas Setya Budiarta

Thursday, September 8, 2016

Keberkahan Gaji


Seseorang datang kepada Imam Syafi’i mengadukan tentang kesempitan hidup yang ia alami. Dia memberi tahukan bahwa ia bekerja sebagai orang upahan dengan gaji 5 dirham. Dan gaji itu tidak mencukupinya.
Namun anehnya, Imam Syafi’i justru menyuruh dia untuk menemui orang yang mengupahnya supaya mengurangi gajinya menjadi 4 dirham. Orang itu pergi melaksanakan perintah Imam Syafi’i sekalipun ia tidak paham apa maksud dari perintah itu.
Setelah berlalu beberapa lama orang itu datang lagi kepada Imam Syafi’i mengadukan tentang kehidupannya yang tidak ada kemajuan. Lalu Imam Syafi’i memerintahkannya untuk kembali menemui orang yang mengupahnya dan minta untuk mengurangi lagi gajinya menjadi 3 dirham. Orang itupun pergi melaksanakan anjuran Imam Syafi’i dengan perasaan sangat heran.
Setelah berlalu sekian hari orang itu kembali lagi menemui Imam Syafi’i dan berterima kasih atas nasehatnya. Ia menceritakan bahwa uang 3 dirham justru bisa menutupi seluruh kebutuhan hidupnya, bahkan hidupnya menjadi lapang. Ia menanyakan apa rahasia di balik itu semua?
Imam Syafi’i menjelaskan bahwa pekerjaan yang ia jalani itu tidak berhak mendapatkan upah lebih dari 3 dirham. Dan kelebihan 2 dirham itu telah mencabut keberkahan harta yang ia miliki ketika tercampur dengannya.
Lalu Imam Syafi’i membacakan sebuah sya’ir:
جمع الحرام على الحلال ليكثره
دخل الحرام على الحلال فبعثره

Dia kumpulkan yang haram dengan yang halal supaya ia menjadi banyak.
Yang harampun masuk ke dalam yang halal lalu ia merusaknya.
____________
Barangkali kisah ini bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita dalam bekerja. Jangan terlalu berharap gaji besar bila pekerjaan kita hanya sederhana. Dan jangan berbangga dulu mendapatkan gaji besar, padahal etos kerja sangat lemah atau tidak seimbang dengan gaji yang diterima.
Bila gaji yang kita terima tidak seimbang dengan kerja, artinya kita sudah menerima harta yang bukan hak kita. Itu semua akan menjadi penghalang keberkahan harta yang ada, dan mengakibatkan hisab yang berat di akhirat kelak.
Harta yang tidak berkah akan mendatangkan permasalahan hidup yang membuat kita susah, sekalipun bertaburkan benda-benda mewah dan serba lux. Uang banyak di bank tapi setiap hari cek-cok dengan istri. Anak-anak tidak mendatangkan kebahagiaan sekalipun jumlahnya banyak. Dengan teman dan jiran sekitar tidak ada yang baikan.
Kendaraan selalu bermasalah. Ketaatan kepada Allah semakin hari semakin melemah. Pikiran hanya dunia dan dunia. Harta dan harta. Penglihatan selalu kepada orang yang lebih dalam masalah dunia. Tidak pernah puas, sekalipun mulutnya melantunkan alhamdulillah tiap menit.
Kening selalu berkerut. Satu persatu penyakitpun datang menghampir. Akhirnya gaji yang besar habis untuk cek up ke dokter sana, periksa ke klinik sini. Tidak ada yang bisa di sisihkan untuk sedekah, infak dan amal-amal sosial demi tabungan masa depan di akhirat. Menjalin silaturrahim dengan sanak keluarga pun tidak. Semakin kelihatan mewah pelitnya juga semakin menjadi. Masa bodoh dengan segala kewajiban kepada Allah. Ada kesempatan untuk shalat ya syukur, tidak ada ya tidak masalah.
Semoga Allah mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk serius dalam bekerja dan itqan, hingga rezeki kita menjadi berkah dunia dan akhirat
Semoga menjadi nasehat untuk kita semua

Saturday, September 3, 2016

Niat Membaca Sholawat


Untuk mereka yang gemar membaca sholawat. Yang sering menyisihkan waktu untuk membaca berbagai sholawat. Berikut ini adalah ringkasan dari niat sholawat yang diajarkan oleh Habib Abdullah al-Haddad.
Sumber Habib Muhammad bin Husein Al Habsyi

Friday, August 26, 2016

Sejarah Singkat Maulid Simthuduror dan Tradisi Haul Solo


Oleh : @Habib Muhammad bin Husein bin Anis Al-Habsyi (FB)
Salah satu yang khas pada haul di Solo ialah pembacaan Maulid Simthud Durar alias Maulid Al-Habsyi. Acara yang diadakan sehabis shalat subuh ini tak kalah khidmat dibanding majelis haul itu sendiri, yang berlangsung sehari sebelumnya.
Juga sama ramainya karena para hadirin dari luar kota umumnya menginap dua malam supaya dapat mengikuti kedua majelis itu sekaligus. Atau, kalaupun mereka tak cukup punya waktu, mereka akan memilih salah satu dari keduanya : kalau tidak majelis haul, ya majelis maulid saja.
Tradisi pembacaan maulid Al-Habsyi ini, sangat boleh jadi, sudah berlangsung sejak haul pertama kali diadakan di Solo oleh Habib Alwi bin Ali bin Muhammad Al-Habsyi. Maklumlah, penyusun maulid tersebut tidak lain adalah shohibul haul, yaitu Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, ayahanda dari Habib Alwi.
Habib Ali mulai menyusun Maulid Al-Habsyi pada usia 68 tahun. Yaitu pada 10 Shofar tahun 1322 H. Beliau tidak menulis, melainkan mendiktekannya kepada putra sulungnya, Habib Muhammad bin Ali. Dikte berlangsung dalam tiga majelis. Pada majelis pertama didikte bagian khutbahnya saja. Usai mendikte, Habib Ali meminta Habib Muhammad membacakannya..
“Insya Allah aku akan segera menyempurnakannya,” kata Habib Ali.
Dan benar, tak lama kemudian beliau menyuruh Habib Muhammad menulis lagi, dimulai dari :
فسبحان الذي أبرز من حضرة الإمتنان
hingga 
و يكتب بها بعناية الله في حزبه

Selanjutnya Simthud Durar disempurnakan pada majelis ketiga yang berlangsung pada hari Selasa awal bulan Rabi’ul Awal pada tahun yang sama.
“Maulid ini sangat menyentuh hati karena baru saja selesai diciptakan,” kata Habib Ali seusai putranya membacakan seluruh Maulid.
Dan pada 10 Rabiul Awal tahun itu juga. Pada majelis ini Habib Ali menyempurnakan karya yang sudah jadi.
Kabarnya, setiap majelis pendiktean berlangsung singkat (khafif). Untaian kata-kata yang merangkai Maulid meluncur begitu saja dari mulutnya, mengalir bak aliran air. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Habib Ali sendiri,
“Ini adalah ilham yang diberikan Allah kepadaku.”
* LATAR BELAKANG PENYUSUNAN MAULID SIMTHUD DURAR
Mengenai latar-belakang mengapa beliau menyusun Simthud Durar, beliau berkata,
“Sudah sejak lama aku berkeinginan untuk menyusun kisah maulid. Sampai suatu hari anakku Muhammad datang menemuiku dengan membawa pena dan kertas, kemudian berkata kepadaku, ‘Mulailah sekarang.’ Aku pun lalu memulainya.”
Sudah sejak lama Habib Ali menggelar majelis maulid di tempatnya di Sewun, setiap tahun. Seperti diungkapkan cucunya, Habib Abdul Qadir bin Muhammad bin Ali, majelis itu mulai berlangsung pada tahun 1296 H. Yang dibaca saat itu adalah Maulid Ad-Diba’i. Sejak pertama kali digelar, majelis ini mengundang banyak peminat. Jumlah mereka setiap tahun selalu bertambah dan bertambah. Karena itu tempatnya pun dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain karena tempat yang lama tidak lagi menampung. Kalau mula-mula di dalam ruangan, yaitu di ribath dan kemudian di Masjid Jami’, selanjutnya acara dilangsungkan di tempat terbuka, yaitu di halaman Anisah.
Suatu kali, ketika sedang berziarah ke makam Rasulullah SAW di Madinah, Habib Ali merasa dirinya tidak pantas menjadi cucu Rasul karena, menurut perasaannya, beliau banyak kesalahan.
Maka pecahlah tangisnya. Tiba-tiba beliau melihat makam Rasul SAW pecah/terbelah, dan di sana ada sinar yang tembus ke langit. Melihat itu, beliau langsung pingsan. “Sejak itu, beliau memiliki dorongan yang kuat untuk menulis Maulid,” ungkap Ustaz Abdul Halim Mas’ud Pasuruan, mengutip kata-kata almaghfur lah Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi Solo.
Entahlah. Apa memang betul hal itu atau hal lain yang menerbitkan dorongan di hati Habib untuk menyusun Maulid. Tetapi yang jelas, cintanya kepada Rasulullah SAW yang sangatlah kuat dan mendalam. Dan cinta mendalam itulah yang menurutnya, membuat Simthud Durar disukai oleh masyarakat.
“Pujianku kepada Nabi SAW dapat diterima oleh masyarakat. Ini karena besarnya cintaku kepada Nabi SAW,” ujar beliau".
Setahun setelah beliau mendiktekan Simthud Durar, beliau membacakannya di hadapan khalayak pada majelis maulid. Ternyata tanggapan mereka sangat bagus. Maka mulailah maulid ini tersebar luas di Sewun. Dari Sewun Simthud Durar terus menjalar, hingga keluar dari batas-batas negara. Yaitu ke Mekah, Madinah, Afrika dan Indonesia.
* SIMTHUD DURAR MASUK KE INDONESIA
Kapan awal mula Masuk ke Indonesia..? diperkirakan mulai masuk sekitar tahun 1920-an, dibawa oleh murid-muridnya yang dipelopori oleh Al-Habib Bin Idrus Al-Habsyi dan diteruskan oleh Al-Habib Ali Bin Abdurrahman Al-Habsyi Kwitang Jakarta.
Mula-mula maulid ini lebih banyak dikenal di kalangan para Habaib. Namun dalam satu dua dasa-warsa terakhir mulai dikenal di kalangan luas. Bermunculan majelis-majelis maulid Al-Habsyi, berikut hadrah Banjarinya. Acara-acara peringatan maulid, walimah (penganten atau khitan) dan tasyakuran mulai banyak yang diisi dengan pembacaan maulid Al-Habsyi – meski maulid Ad-Diba’i dan Al-Barzanji masih belum ditinggalkan. Begitu pula dengan majelis Haul.
Khusus majelis Haul ada yang unik. Di beberapa tempat, pembacaan maulid Al-Habsyi dilakukan secara khusus, seusai shalat subuh. Ini mungkin terimbas atau meniru tradisi haul di Solo. Hanya saja, kalau di Solo majelis haul dan majelis maulid dilangsungkan pada hari berbeda, di tempat lain pada hari yang sama : paginya majelis maulid, siangnya majelis haul.
* HUBUNGAN SIMTHUD DURAR DENGAN HADRAH AL-BANJARI
Simthud Durar sekarang begitu identik dengan hadrah Al-Banjari. Seringkali orang dibuat rancu antara keduanya, seolah keduanya dua hal tak terpisah :
Majelis Habsyian ya majelis Banjari, majelis Banjari ya majelis Habsyian. Sebab, di mana dibacakan maulid Al-Habsyi, di situ pasti ada hadrah Banjari.
Padahal kenyataannya Simthud Durar dan hadrah Banjari adalah dua hal yang berbeda, terlahir di daerah berbeda. Simthud Durar lahir di Sewun (Hadramaut), Al-Banjari lahir di Banjarmasin (Kalimantan Selatan) sebelum orang setempat mengenal maulid tersebut.
Adapun pada majelis Maulid Al-Habsyi di haul Solo, sejak dulu dipakai rebana sebagai pengiring maqam (salawat sambil berdiri) atau lagu-lagu lain. Namun, rebananya bukan rebana Banjari, melainkan rebana khas Hadramaut.
Terdiri atas empat rebana, bentuknya beraneka ragam : ada yang bulat, ada yang kotak (bujur sangkar), ada pula yang persegi lima. Ukurannya pun jauh lebih besar, yaitu berdiameter sekitar 50 cm. sehingga cukup berat.
Dan dalam perkembangan berikut keduanya berjalan beriringan. Saling dukung. Berkat Simthud Durar, hadrah Banjari sekarang dikenal secara lebih luas. Begitupun sebaliknya, dengan dukungan rebana Al-Banjari, yang notabene memiliki karakter terbuka terhadap lagu-lagu baru dan terhadap aransemen serta irama baru, Simthud Durar menjadi lebih cepat perkembangannya.
Semoga bermanfaat dengan membacanya kita akan sejarah singkat mengenai perkembangannya Maulid Sinthud Durar ini..
Amiin Yaa Robbal 'Alamin.

Posting Populer